kadangkala dingin hati melihat kau pergi.
Kau seperti tidak peduli melangkah pergi,
bisu,
tuli,
buta,
bagai disumpah neraka,
bagai disimbah api dari segala petala,
bodoh aku sekejap,
pemergian kau menjadi gelap,
gelap dalam tiap segenap,
mana pergi kata-kata yang dulunya menari,
tutur yang bagai mentari,
menyinari memandikan diri ini,
hujan yang suamnya menidurkan aku,
angin yang sepoinya tidak kenal lesu.....
dulu...
aku mampu... aku mahu...
sekarang kau pergi... dan aku menyendiri..
dan aku tuli... bisu... buta...
tanpa kata-kata yang dulu membawa makna berjuta rasa dan nista....
kembali kata-kataku...
aku mahu menulis seperti dulu....
aku rindu okestra cipataan kita...
aku rindu lukisan dunia yang kita hasilkan bersama..
kembalilah kata-kataku...
mari kita siapkan cerita kita...
cerita kita yang bagai tiada sudahnya...
kata-kata, perkataan, ayat, nahu, pertuturan, semuanya pulang ada aku....
aku merayu..